Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini

gl11-KarinaNP_001

Hmm.. Gimana bahasan kemarin tentang Perbedaan Gender? Jadi kebayang ya. Istilah gender ternyata buat peran. Semoga setelah ini kita makin paham makna. Dan setiap kali mau membicarakan sesuatu, pastikan kita paham dulu dudukan makna dari kata dasarnya.

Oke.. Sekarang bahasan berikutnya adalah tentang pendidikan fitrah seksualitas dikhususkan usia dini. Setelah tahu seks itu adalah jenis kelamin, semoga setiap kali dengar kata seksualitas sudah ga lagi hanya memikirkan “ngajarin anak hubungan seksual sejak dini?” hihi..

Apa Sih Fitrah Seksualitas Itu?

Kita mulai dengan kata fitrah. Apa sih fitrah itu?

Di kamus KBBI dikatakan, fitrah adalah sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan.

Wikipedia menuliskan, fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal. Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, seperti “penciptaan” dan “kejadian”.[1]

Lalu apa sih seksualitas? Dalam KBBI fitrah diartikan sebagai 1 ciri, sifat, atau peranan seks; 2 dorongan seks; 3 kehidupan seks

Lalu, setelah memahami makna kata dasarnya, sebetulnya fitrah seksualitas itu apa ya? Dalam buku Fitrah Based Education (FBE), fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.

Mendidik Anak Sesuai Fitrah Berdasarkan Usia

Mendidik Fitrah Seksualitas pada anak dapat kita pahami melalui tahapan berikut

  1. Usia 0 -2 tahun (fase oral)
    Dekatkan anak dengan ibunya. Pada usia 0-2 tahun, anak masih menyusu pada ibunya. Menyusui adalah pondasi penguatan konsepsi semua fitrah.
    Di usia ini pula penting membangun cinta dalam keluarga dan lingkungan terdekat serta memastikan terbentuk gambaran positif kehidupan bagi anak.
    💙 Pada fase ini anak (laki-laki dan perempuan) harus sangat dekat dengan Bundanya karena masa menyusui. Aspek kognitif sensorisnya berkembang.
    💙Membiasakan menutup aurat anak. Khususnya saat mandi, ganti popok, ganti baju. Hendaknya orang tua jangan melakukannya di tempat terbuka dan tidak di hadapan orang lain.
    💙Saat sedang menyusui, hendaknya hanya anak yang bisa melihat puting ibu.
    💙Orang tua tidak berhubungan seksual di ruangan yang sama.
    💙Mengenalkan anggota tubuh anak dengan nama sebenarnya. Mulai dikenalkan usia 15 bulan.
    💙 Stimulus imajinasi anak melalui permainan untuk mengenalkan perbedaan peran sesuai gender.
  2. Usia 3-6 (fase Phalic)
    Pada tahapan ini penguatan konsepsi gender dengan penggambaran positif gender masing-masing. Anak laki-laki dan perempuan harus didekatkan dengan kedua orang tuanya. Indikator pada tahapan ini adalah anak dapat menyebutkan dengan jelas dan bangga dengan gendernya di usia tiga tahun.
    💙Anak perempuan dan laki-laki harus dekat dengan Ayah dan Bundanya. Agar memiliki keseimbangan rasional dan emosional. Egosentris anak harus bertemu dengan fitrah seksualitasnya.
    ❤ Anak harus bisa menyebut dan bangga dengan jenis kelaminnya
    ❤ Berikan imaji imaji positif tentang gender-nya masing-masing
    ❤ Kenalkan bagian tubuh dirinya dan orang lain melalui permainan/lagu (bagian yang boleh disentuh oleh orang lain dan yang tidak)
  3. Usia 7-10 (fase genital)
    Merupakan start-up. Mewujud dalam peran seksualitas secara bertanggung jawab.
    Penyadaran potensi gender dengan aktivitas yang relevan dan beragam sesuai gendernya. Ayah mengajak anak laki-laki berperan dan beraktivitas sebagai laki-laki di kehidupan sosialnya. Termasuk menjelaskan tentang mimpi basah, fungsi sperma, dll.
    Ibu mengajak anak perempuan beraktivitas sebagai perempuan di kehidupan sosialnya. Dijelaskan tentang menstruasi, dll.
    Indikator pada tahap ini, anak laki-laki kagum dan ingin menjadi seperti ayahnya dan anak perempuan mengagumi ibunya. Ia dapat pula menghayati peran seksualitas masing-masing.
  4. Usia 11-14 (pre aqil baligh)
    Tahap pengujian eksistensi melalui ujian di kehidupan nyata.
    Anak laki-laki didekatkan dengan ibunya dan memahami cara pandang perempuan (ibunya). Anak perempuan didekatkan dengan ayahnya dan memahami cara pandang laki-laki (ayahnya).
    Indikator pada tahapan ini adalah persiapan dan keinginan menjadi ayah bagi anak laki-laki dan keinginan menjadi ibu bagi anak perempuan.
  5. Usia 15 tahun (umumnya ini merupakan usia baligh)
    Penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga peran keayahbundaan sudah terbentuk sempurna dan seimbang. Pada tahapan ini anak sudah mendapat beban syariat dan berubah stastusnya menjadi mitra orang tua.
    Anak sudah siap berperan sebagai ayah dan bunda sejati sebab sudah baligh. Dipahamkan pula adab pada keluarga, pasangan dan keturunan.
Membangun Fitrah Seksualitas Sesuai Tahapan Umur

Bagaimana Menjaga Fitrah Seksualitas?

Berbicara tentang fitrah, kita membahas manusia. Maka penekanan bukan hanya pada anak melainkan juga pada kita sebagai orang tua. Sebab kita pun manusia yang memiliki fitrah yang sama. Hanya mungkin beda “level”nya.

Menjaga fitrah anak erat kaitannya dengan menjaga fitrah diri. Cek terlebih dahulu apakah orang tua baik ayah maupun ibu sudah bertindak sesuai fitrahnya masing-masing? Misal, kaidah berpakaian ayah-bunda sudah sesuai ketentuan, ibu tidak menjadi superwoman yang mengerjakan segala pekerjaan termasuk pekerjaan maskulin. Sesekali boleh, akan tetapi anak mesti sering melihat bahwa pekerjaan maskulin dilakukan ayah (lelaki) dan perempuan menjalankan peran feminin (perempuan)

Sebab anak bisa saja salah mendengar tapi tidak pernah salah melihat. Sebagaimana nasihat Imam Syafii pada guru dari ana-anak Harun Al-Rasyid:
Hendaklah satu hal yang pertama dimulai dalam mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah memperbaiki dirimuMata-mata mereka bergantung pada matamu. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan apa yang engkau lakukan. Keburukan bagi mereka adalah sesuatu yang kau benci. Ajarkanlah mereka kitabullah, janganlah engkau memaksakan mereka sehingga mereka bosan. Dan janganlah kau meninggalkan mereka dari Al-Quran lalu mereka akan meninggalkannya. Kemudian ceritakan kepada mereka dari hadits-hadits yang mulia dan pepatah nasehat. Dan janganlah kau ajarkan kepada mereka suatu ilmu kemudian pindah kepada ilmu yang lain sehingga mereka memahaminya (maksudnya, jangan beralih sebelum anak paham). Maka sesungguhnya perkataan yang bertumpuk-tumpuk dalam pendengaran akan menyusahkan pemahaman”. (Mauqif Fii Az-Zuhd wa-Roqoiq: 70)

Peran Ayah dalam pendidikan fitrah seksualitas

  1. Seorang Ayah harus menumbuhkan pondasi kepercayaan dan cinta pada anak.
  2. Ayah menjalankan peran keayahannya sebagai lelaki sejati dalam pendidikan fitrah seksualitas.
  3. Sebagai calon suami/calon ayah, terlebih dahulu mengedukasi diri mengenai parenting atau pendidikan berbasis fitrah. Agar setelah menikah dan memiliki anak, ayah tidak kaget atau tidak menerima perannya.
  4. Menyelaraskan visi dan misi keluarga, menggali tujuan dari keluarga, menyamakan persepsi dan pandangan
    dengan pasangan, saling memahami for dan foe.
  5. Menumbuhkan rasa percaya diri ayah dengan melibatkan setiap kegiatan ibu ketika mengurus anak sejak anak lahir.
  6. Jika ingin menyekolahkan anak ke PAUD sebaiknya pilih sekolah yang mempunyai guru laki-laki dan perempuan, kecuali orang tua sudah yakin bahwa anaknya telah mendapatkan pemenuhan peran gender
    yang diperlukan dari ayah dan ibu di rumah.
  7. Bagaimana bila orang tua terlanjur berpisah, atau ayah mengalami kematian karena suatu penyebab? Bagaimana jika salah satu orang tua tidak ada karena tinggal di luar kota? Dapatkah pendidikan fitrah seksual ini agar tetap simbang dan mumpuni?

Tentu saja bisa.

  • Pada orang tua yang bercerai, ibu tidak memberikan imaji negatif tentang ayah dan tidak membatasi atau menghilangkan waktu kunjungan ayah agar tercapai kesadaran atas tugas dan peran masing-masing sebagai orang tua yang tidak akan pernah berakhir walaupun hubungan pernikahan telah berakhir.
  • Pada ibu yang ditinggalkan suaminya (karena kematian atau tidak mau bertanggung jawab), maka dukungan keluarga besar yang proporsional dapat memenuhi kekosongan peran ayah, misalnya sosok laki-laki di rumah dapat digantikan oleh kakek atau paman. Tujuannya untuk pemenuhan peran gender yang diperlukan serta melengkapi kebutuhan cinta dan kasih sayang pada diri anak, sehingga dampak fatherless pada diri anak dapat dimimalisir.
  • Apabila seorang ibu tidak mendapat dukungan dalam membesarkan anak dari suami atau lingkungan sekitar, maka dibutuhkan pemberdayaan diri berupa penggalian keterampilan untuk dapat memenuhi kebutuhan materi keluarga. Keterampilan yang dimiliki ibu akan mendongkrak kepercayaan dirinya, keyakinan bahwa ia dapat mengatasi permasalahan apapun yang terjadi dalam pengasuhan anak, dan kemampuan dasar dalam mengelola diri secara penuh.

 

referensi : 

http://celotehbundasabrina.blogspot.com/2018/05/my-body-belongs-to-allah-konsep.html
http://ukirananelok.blogspot.com/2019/08/pendidikan-fitrah-seksualitas-sejak-dini.html
https://www.lendyagasshi.com/2016/09/resume-rb-cikutra-pendidikan.html

susah-mem/487089238305266/
https://zahrohsofi.wordpress.com/2018/01/18/pendidikan-fitrah-seksualitas-pada-anak-usia-dini/
Amirudin,Ine Nirmala, 2018, Pendidikan Seksual Anak Usia Dini dalam Persfektif Hukum Islam , Universitas Singaperbangsa  Karawang.
http://acatadesa.com/tag/fitrah-seksualitas
https://www.dunialingga.com/2017/03/aku-mampu-menjaga-diri.html

 

#harike2

#gamelevel11

#pendidikanfitrahseksualsejakdini

#BundaSayang

#InstitutIbuProfesionalBanyumasRaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close